Selasa, 13 Juli 2010

Fungsi Masjid Pada Zaman Rasulullah



 
MASJID adalah rumah Allah untuk beribadat kerana itu kesucian dan kemuliaannya hendaklah dipelihara. Segala amalan atau perkara yang dianggap boleh mencemarkan kesucian dan kemuliaan masjid tidak boleh dilakukan di dalam masjid.
Masjid juga bukan untuk tatapan dan ibadat sembahyang pada hari dan waktu tertentu saja. Sebaliknya, ia adalah pusat dan nadi kegiatan ummah, sama ada dari segi kerohanian atau keduniaan seperti kegiatan yang menyentuh perhubungan antara manusia dan pencipta (Allah). Begitu juga, perhubungan manusia sesama mereka sendiri dalam menguruskan hal ehwal keagamaan, ekonomi, sosial, keilmuan dan pentadbiran negara. Ia adalah tempat melaksanakan segala kegiatan manusia yang mencerminkan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. 
Al-Quran menjelaskan fungsi masjid di dalam firman-Nya yang bermaksud: "Nur hidayah petunjuk Allah bersinar dengan nyata (terutama sekali) di masjid sebagai tempat ibadat yang diperintah oleh Allah supaya dimuliakan dan disebut serta diperingat nama Allah padanya; di situ juga dikerjakan ibadat memuji Allah pada waktu pagi dan petang. (Ibadat dikerjakan oleh) orang yang kuat imannya, yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual beli daripada menyebut serta mengingati Allah dan mendirikan solat serta mengeluarkan zakat; mereka takut hari (kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan." – (surah Al-Nur, ayat 36-37)

Dalam ayat berkenaan, tasbih atau zikir bukan hanya bererti mengucapkan subhanallah saja, melainkan lebih luas lagi, sesuai dengan makna yang dicakupi oleh perkataan berkenaan serta konteksnya. Sedangkan erti dan konteks berkenaan dapat disimpulkan sebagai takwa.

Kalau dikaji dari segi bentuk fizikal masjid pada zaman Rasulullah, ternyata sifatnya tidak seperti sifat masjid yang dibina di negeri umat Islam pada masa kini. Pada zaman itu, masjid didirikan daripada pelepah tamar dan atapnya daripada daun kurma dan apabila sujud debu melekat pada dahi.
Ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang baginda lakukan ialah membina masjid. Masjid pertama yang dibina oleh Rasulullah ialah Masjid Quba. Masjid ini didirikan secara bergotong-royong di atas sebidang tanah kepunyaan dua anak yatim. Keadaan masjid itu sangat sederhana, dikelilingi tembok batu bata yang diperbuat daripada tanah liat dan berlantaikan pasir (Shalaby, Ahmad. Perbandingan Agama Islam hlm: 77)

Ini disusuli pembinaan Masjid Nabawi di Madinah. Jelasnya kedua-dua masjid itu dibina atas dasar ketakwaan sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah: "Janganlah engkau sembahyang di masjid itu (yang dibina oleh orang munafik) selama-lamanya kerana sesungguhnya Masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa dari mula (wujudnya), (maka) sudah sepatutnya engkau sembahyang padanya..."– (Surah Al-Taubah, ayat 108).
Setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi berkenaan. Itulah sebabnya Rasulullah meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga disebut sebagai masjid dan menjadikan lokasi itu tempat membuang sampah-sarap. Ini kerana bangunan itu tidak menjalankan fungsi masjid yang sebenarnya iaitu ketakwaan.
Masjid tidak dilihat dari segi peranannya yang khusus saja, malah dari segi pembangunan dan perkembangan ummah seperti yang pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sahabat.
Di antara fungsi masjid pada zaman Rasulullah ialah:

1.    Tempat ibadat, terutama sembahyang berjemaah.
2.    Tempat pembentukan peribadi umat Islam atau dalam erti kata lain masjid adalah pusat pendidikan Islam.
3.    Pusat perkembangan ilmu pengetahuan kerana masjid tempat ilmu pengetahuan disampaikan baik dalam bidang akidah, syariat dan akhlak.
4.    Tempat wahyu diturunkan dan sebagai tempat wahyu disampaikan kepada sahabat.
5.    Pusat kegiatan kesusasteraan dan persuratan Islam. Ada sahabat yang menyampaikan syairnya dalam masjid.
6.    Pusat kegiatan sosial dan kehakiman dalam perkara yang berkaitan dengan nikah kahwin dan penyelesaian masalah umat Islam.
7.    Tempat letaknya Baitulmal negara.
8.    Tempat persinggahan musafir dan tempat menyambut tetamu.
9.    Lambang persaudaraan dan perpaduan umat Islam kerana setiap hari lima kali umat Islam bertemu dengan tujuan yang sama tanpa mengira kedudukan dan keturunan.
10. Tempat membuat perisytiharan kepada umat termasuk perisytiharan pelantikan khalifah (Abu Shuhbah, al-Sirat Nabawiyyat Fi al- Qur'an Wa al-Sunnat jld: 2 hlm: 31).

Sabtu, 17 April 2010

Hikmah Diciptakannya Setan




Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 05 Oct, 04 - 11:41 am

Ruswanto Syamsuddin
Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.

Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.

Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.

Apa Itu Setan?


Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).

Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).

Mudharat Tayangan Setan


Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.

Hikmah Diciptakannya Setan


Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.

Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.

Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.

Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.

Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah :


1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,


Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.


Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya.


Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).

5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.


Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.

Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?